Membaca kisah perjalanan mas Harry seperti yang dia tulis di milist jalan sutra, saya jadi teringat pengalaman saya ke Dieng beberapa tahun yang lalu.
Kisahnya hampir sama, yaitu lewat jalan darat, , tetapi bedanya waktu itu saya tujuannya mudik dulu ke Solo (memang pas menjelang lebaran), dan kebetulan ada teman kantor, Donald dan Wilson, yang tidak mudik, jadi sekalian jalan-jalan ikut mudik ke jawa, baru setelah lebaran rencana jalan-jalan ke Borobudur dan mampir ke Dieng.
Soal kemacetan, jangan tanya. Luar biasa. Jam 16.30 start dari Bekasi, sampai pamanukan pas buka puasa. Dalam hati tanggung kalau mampir ke restaurant, jadi beli saja pedagang asongan sekedar untuk ganjal perut. Rencananya nanti makan di Cirebon saja. Dan benar, akhirnya kami makan di Cirebon, bukannya buka puasa tetapi MAKAN SAHUR, karena jam 3 pagi baru sampai Cirebon. Bener-bener melelahkan.
PERJALANAN KE DIENG.
Setelah sungkeman dan lebaran di rumah, hari ke dua kami bertiga berangkat menuju Borobudur dan di lanjut ke Dieng.
Di Dieng, pertama yang kami kunjungi adalah Sumur Jalatunda. Yaitu seperti telaga dengan tebing yang cukup curam. Anak-anak sekitar situ memberitahu kami, kalau bisa melempar batu sampai ke tebing, maka keinginan kita akan makbul. Saya sebenarnya tidak percaya terhadap hal-hal seperti itu, tetapi sekedar pingin menguji kekuatan lemparan iseng-iseng saya ambil batu dan mulai melempar. Begitu juga teman-teman yang lain. Dan tak satupun batu mencapai sasaran, karena memang jaraknya cukup jauh. Setelah selesai melempar, anak-anak tadi langsung meminta bayaran untuk batu-batu yang kami lempar. Busyet dah, benar-benar kami kena tipu. Ternyata batu-batu tersebut memang sengaja sudah disiapkan.
Selesai dari SumurJalatunda, kami meneruskan perjalanan ke Telaga warna. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan seorang bule yang didampingi oleh seorang wanita pribumi (entah guide atau pacar kami kurang tahu). Karena tujuannya sama, akhirnya mereka ikut mobil kita.
Telaga warna memang cukup indah, dengan air yang warna-warni. Tidak jauh dari telaga terdapat beberapa gua, yaitu gua semar dan gua sumur. Pada saat itu hari sudah agak sore, jadi suasana sudah mulai gelap. Sepanjang perjajalan kita ketawa-ketiwi cekikan. Apalagi begitu sampai gua semar, yang bagi kami tidak ada istimewanya. Kami ledek-ledekan. Malahan kami sempat bilang ini gue semar mendem alias mabuk. Tak jauh dari gua semar, kami temukan gua sumur. Di sebut gua sumur, karena untuk masuk ke gua, mesti naik dulu, baru turun dengan anak tangga sempit menuju pintu gua, jadi mirip masuk ke sumur. Di situ kami tak henti-hentinya bercanda. Wilson, yang paling duluan jalan mencoba turun duluan ke gua.
SUARA HANTU?
Tetapi belum sampai beberapa langkah menuruni anak tangga, tiba-tiba dari dalam gua terdengar suara yang begitu menggema dan berkumandang :
"MAU APA KALIAN!".
Entah karena kaget atau takut Wilson langsung balik dan lari. Kami, entah juga karena kaget atau takut, secara reflek, melihat Wilson berlari, kami juga ikut lari balik turun ke bawah. Demikian juga dengan si Bule, diapun ikut lari. Sampai dibawah kami baru sadar, kalau wanita teman si bule tidak bersama kami lagi.
Wanita tersebut hilang!!!
Kami saling berpandangan dengan wajah pucat pasi. Dan setelah rasa kaget kami hilang, kami naik kembali ke atas, mencoba mencari teman si bule. Dan tak jauh, dari jalanan turun menuju gua, ternyata ada lubang yang cukup besar, dan kami lihat di atas, si wanita tadi tengah telungkup dibawah. Leher saya seperti tercekat! Karena lubang tersebut cukup dalam. Saya hanya bisa berharap, mudah-mudahan wanita tersebut selamat.
Tetapi yang jadi masalah adalah bagaimana menolong wanita tersebut. Kami tidak punya peralatan apapun. Kami lihat dari atas, terhadap sedikit cahaya dari sebelah bawah. Harapan kami pada waktu itu adalah dapat menemukan pintu lain, sehingga tidak perlu peralatan khusus untuk menolong wanita malang tersebut.
Akhirnya kami putuskan turun, terus sedikit jalan mengitar kawasan gua. Kami gembira, karena akhirnya kami menemukan satu lorong kecil sumber cahaya seperti yang kami lihat dari atas . Setelah masuk kedalam, ternyata ini semacam gua kecil, tetapi atapnya berlubang. Mirip seperti sumur (mungkin ini yang menyebabkan gua ini disebut gua sumur. Kami dekati perlahan wanita tersebut, dia mengerang perlahan. Alhamdulillah, paling tidak wanita tersebut masih hidup. Setelah kami periksa, tidak ada luka yang berarti, dan lantai tempat dia terjatuh berupa tanah yang cukup empuk.
Kami lebih gembira lagi, karena wanita tersebut sudah bisa bicara. Menurut keterangannya, dia terjatuh karena di dorong oleh mas yang pakai BAJU PUTIH. Kami hanya berpandangan mata, karena diantara kami tidak ada yang memakai baju putih.
Karena jarak dari gua ke tempat mobil cukup jauh, kami putuskan untuk mencari orang kampung untuk membantu kami mengangkat wanita tersebut ke mobil.
Di tengah perjalanan, beberapa orang kampung bercerita, bahwa di tempat tersebut mesti hati-hati. Tidak boleh bercanda atau tertawa-tawa. Menurut keterangan mereka, di gua tersebut terkadang ada orang yang sedang bertapa di dalamnya. Ah, ini dia. Mungkin ini sumber suara tadi. Karena dia merasa terganggu dengan suara kami, maka dia ngomong seperti itu. Didukung hari yang gelap, suasana sepi dan pengaruh gema di dalam gua, menjadikan suara dia begitu mengagetkan dan menakutkan.
Akhirnya karena puskesmas sudah tutup, dan ternyata wanita tersebut punya saudara di kota wonosobo, maka kami antarkan dia ke tempat saudaranya. Dan tentu saja, kami sudah melupakan atau sudah kehilangan semangat untuk mengunjungi tempat lain di Dieng. Kami putuskan malam itu juga langsung pulang ke Solo.
Hikmah yang saya ambil dari pengalaman saya adalah, kita mesti hati-hati kalau memasuki wilayah yang asing dan belum di kenal. Adat istiadat setempat, larangan-larangan setempat mesti dipelajari terlebih dahulu, kalau tidak menginginkan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Paling tidak kita bisa menghormati adat istiadat setempat, sehingga jika terjadi sesuatu kita tidak disalahkan karena dianggap melanggar adat istiadat setempat.