Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
ReviewReviewReviewReviewReviewNov 19, '06 9:21 AM
for everyone
Category:Other
Beberapa tahun yang lalu setiap makan di restoran China saya selalu memesan teh China sebagai minuman pendampingnya. Banyak orang mengatakan teh China sangat baik untuk melarutkan lemak. Teh China biasanya disajikan dalam satu teko China dan cangkir teh china. Pada waktu itu, Oolong saya kira adalah merk sebuah teh yang diimpor dari China. Jadi setiap disajikan teh China, dengan gaya sok tahu, saya suka bertanya, “Tehnya Oolong bukan?”

Belakangan saya baru tahu kalau Oolong adalah salah satu jenis teh berdasarkan prosesnya. Teh Oolong adalah salah satu jenis teh yang sedikit merupakan perpaduan antara teh hijau dan teh hitam. Teh ini dipermentasi seperti halnya teh hitam, tetapi hanya sebentar saja. Ada banyak jenis teh Oolong. Salah satunya yang saya coba kali ini adalah teh Ti Kuan Yin oleh-oleh dari Ole.

Kuan Yin adalah sebutan untuk Dewi yang murah hati, yang sering disebut sebagai Godess of Mercy. Teh ini disebut sebagai Ti Kuan Yin atau Iron Godess of Mercy karena dianggap sebagai hadiah dari patung Dewi tersebut. Berikut salah satu legenda ceritanya:

Jauh di dalam jantung kota Anxi, provinsi Fujian China, berdiri sebuah kuil dimana di dalamnya tersimpan sebuah patung besi Dewi Kuan Yin. Kuil tersebut tampak bobrok dan tidak terpelihara. Wei, adalah seorang petani yang cukup prihatin melihat kondisi kuil tersebut. Tetapi karena kemiskinannya, dia tidak mampu memperbaik kuil yang rusak tersebut.

Kemudian Wei membawa sapu dan dupa ke kuil tersebut. Setelah dibersihkan, wei menyalakan dupa untuk persembahan kepada Dewi Kuan Yin. Paling tidak ini yang bisa saya lakukan, begitu pikir Wei. Dia lakukan kegiatan tersebut secara rutin.

Beberapa bulan berselang, Dewi Kuan Yin datang dalam mimpinya dan menyuruh Wei datang ke dalam gua di sebelah Kuil. “Saya sediakan harta karun sebagai hadiah dariku”, kata Dewi Kuan Yin dalam mimpinya. (Dalam versi lain diceritakan, patung Dewi Kuan Yin hidup dan berkata langsung kepada Wei. Karena rasa takut dan Shock, Wei sendiri bingung apakah itu hanya mimpi atau nyata).

Ketika Wei mendatangi gua tersebut, dia menemukan sebuah tunas bibit teh. Kemudian tunas tersebut dia tanam dan dipelihara dengan baik hingga besar. Ketika sudah besar, dia mulai potong dan dibagikan ke tetangganya untuk dikembangkan bersama-sama. Kemudian dia dan tetangganya menjual teh tersebut dengan nama Ti Kuan Yin.

Dengan berlalunya waktu, dari hasil penjualan teh Wei dan tetangganya hidup makmur dan berkecukupan. Mereka bisa memperbaiki kuil yang rusak tersebut menjadi sebuah kuil yang indah.

Sekarang teh Ti Kuan Yin menjadi salah satu teh Oolong saya terkenal dan banyak digemari orang. Teh ini memiliki dua varietas. Pertama disebut sebagai Jade Ti Kuan Yin. Varietias ini dipanen sekitar tanggal 5-10 Mei. Varietas kedua disebut dengan Autum Ti Kuan Yin, karena dipanen semasa musim gugur.

Teh Ti Kuan Yin dari Ole dikemas dalam satu bungkus kecil yang menarik. Ketika dibuka bungkusnya tampak butiran gulungan daun teh yang masih berwarna hijau gelap, sebagian tampak sedikit menghitam. Saya siapkan teko penyeduh saya.

Semenjak ikut Gong Fu cha beberapa waktu yang lalu, saya mencoba menyeduh teh dengan cara seperti yang diajarkan dalam Gong Fu Cha.

Saya memiliki dua buah teko keramik, kapasitas 300 ml. Satu teko untuk menyeduh, teko lain untuk menuang hasil seduhan. Suhu air yang dibutuhkan sekitar 85-90 C.

Pada seduhan pertama, aroma samar harum mirip harumnya anggrek mengindera hidung. Rasa manis yang juga samar, serta rasa buah yang juga samar, menandakan kualitas teh ini patut dipercaya.
Ampas bekas seduhan, yang pada awalnya Cuma sekitar dua sendok teh, tampak hijau mengembang memenuhi hampir separuh teko. Dan dahsyatnya, hingga seduhan ke tujuh rasa dan aroma tidak berubah menunjukkan bahwa teh ini benar-benar berkualitas prima. Bahkan disebuah situs, saya baca Ti Kuan Yin bisa diseduh hingga seduhan ke sepuluh. Sayangnya karena mau pergi dan perut keburu kembung kebanyakan minum teh, saya berhenti hanya pada seduhan ke tujuh.

Teh Ti kuan yin menjadi teh favorite lain setelah teh Yin Zhen. Teh ini sangat disarankan untuk dicoba.








oleole wrote on Nov 19, '06
ha ha ha .... sampe kembung ya ..... ini favorit si Marcel juga, saya juga, saya suka perhatikan dari butiran2 jadi mekar menjadi daun teh yg utuh. Kadang kalau saya ga mau rugi, saya simpen daun bekasnya di kulkas, besok diseduh lagi, tp tentu tdk direkomendasi oleh Master Suwarni. Kemudian daunnya saya jemur lalu simpan, suatu waktu pengen bikin bantal kalo sudah terkumpl banyak
laresolo wrote on Nov 19, '06
oleole said
ha ha ha .... sampe kembung ya ..... ini favorit si Marcel juga, saya juga, saya suka perhatikan dari butiran2 jadi mekar menjadi daun teh yg utuh. Kadang kalau saya ga mau rugi, saya simpen daun bekasnya di kulkas, besok diseduh lagi, tp tentu tdk direkomendasi oleh Master Suwarni. Kemudian daunnya saya jemur lalu simpan, suatu waktu pengen bikin bantal kalo sudah terkumpl banyak
Hi...hi.. bantal teh Ti Kuan Yin. Ntar didatangi Dewi Kuan Yin lho .... ;-)
Sayangnya tidak mirip Pu Erh ya, yang ampasnya boleh disimpan di kulkas dan tidak basi.
jazzterday wrote on Jan 7, '07
wah...bisa sampe seduhan ke-10 yah...klo di-besok-kan, boleh gak..? atow harus pd saat yg sama....???
jazzterday wrote on Jan 7, '07
gak boleh kayaknya....hehehehe....mungkin nyeduh nya dikiit aja dulu, secara aku di rumah cuma sendiri yg minum teh ini....hehehe
laresolo wrote on Jan 8, '07
gak boleh kayaknya....hehehehe....mungkin nyeduh nya dikiit aja dulu, secara aku di rumah cuma sendiri yg minum teh ini....hehehe
Masalahnya takaran yang kurang juga akan membuat seduhan teh kurang enak. Menurut pengalaman Ole seperti koment diatas, walau memang tidak disarankan, dia coba simpan di kulkas. Yah, selama gak basi khan gak beracun, hanya mungkin dari sisi khasiat sudah berkurang.
ngerejekeni wrote on May 15, '07
boleh gabung gak dgn teman2 JS di Jogja, aq lama di Jogja nih skrg pindah ke Sby krn ikut suami, tp mertua di sana jd sering pulang..
laresolo wrote on May 15, '07
boleh gabung gak dgn teman2 JS di Jogja, aq lama di Jogja nih skrg pindah ke Sby krn ikut suami, tp mertua di sana jd sering pulang..
Mbak Rejeki ..;-)
Kalau di Yogja, yang rajin ngeteh adalah mas Yuda, silahkan kontak beliau. Saya sendiri tinggal di Bogor. Kalua pas ke Bogor dan mau mampir ngeteh di rumah, sumonggo .. ;-)
tresyabedkowska wrote on May 21, '07
saya paling suka teh tong tji, bisa kasih ulasan nggak pak?
matur nuwun sanget loh!
laresolo wrote on May 21, '07
saya paling suka teh tong tji, bisa kasih ulasan nggak pak?
matur nuwun sanget loh!
Teh Tongji jenis apa dulu? Teh hijau Wangi melati? Teh Hitam atau teh hijau.
Khusus untuk teh hijau wangi melati, secara kualitas, baik itu tong ji, Sosro, Gopek, Upet hampir sama. Daun yang digunakan, kurang jelas itu peko, atau daun tua. Yang jelas, batangnya pun ikut terbawa.
Kalau suka teh wangi melati, sekali-kali dicoba Jasmine green tea yang kualitas excelent. Teh wangi melati yang baik malahan tidak ada bunga melatinya sama sekali. Teh disimpan dalam satu ruangan bersama-sama dengan bunga melati hingga bunya layu. Bunga melati diganti hingga tujuh kali. Begitu kira-kira gambarannya.
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
0 out of 5 stars